Cerita Dewa Ruci diduga -menurut Prof. Dr. RM. Ng Purbotjaroko dan Dr.
Stutterheim- ditulis kira-kira pada masa peralihan agama, atau pada awal
tersebarnya Islam di Tanah Jawa. Cerita aslinya, yang dianggap
Babon-nya, dinisbahkan kepada Mpu Ciwamurti. Tetapi naskah-naskah
kemudian dihubungkan kepada Ajisaka, yang konon menjadi murid Maulana
Ngusman Ngali, seorang penyebar agama Islam. Pada tangan Sunan Bonang,
Serat Dewa Ruci yang asli itu diterjemahkan dari Bahasa Kawi ke dalam
bahasa Jawa Modern. Terjemahan ini tersimpan di perpustakaan pribadi
R.Ng.Ronggowarsito.
Orang hanya dapat memahami Dewa Ruci bila ia memiliki latar belakang
ilmu tasawuf, dengan merujuk paling tidak pada karya-karya Al-Ghazali
dan Ibn Arabi. Walaupun Prof. Dr. Ng. Purbotjaroko mengatakan bahwa
nilai sastra dewa Ruci itu tidak besar dan nilainya sebagai buku tasawuf
juga tidak begitu penting, bagi kebanyakan orang Jawa, terutama
“angkatan tua”, ia dianggap sebagai sumber pokok ajaran Kejawen, sebagai rujukan untuk “ilmu kasampurnan” .
Dalam Cerita Dewa Ruci, sebenarnya tasawuf disampaikan dengan
menggunakan “bahasa” orang Jawa. Secara hermeneutik, jika kita membaca
Cerita Dewa Ruci dengan Vorverstandnis (preunderstanding) sastra modern,
kita akan mengatakannya seperti Prof. Dr. Ng. Purbotjaroko.Tetapi bila
preunderstanding kita itu dilandasi pada literatur sufi,
kita akan melihatnya sangat sufistik.Sudah lazim dalam literatur sufi,
para sufi mengajar lewat ceritra. Cerita itu diambil dari khazanah
budaya bangsa yang dihadapi para sufi itu.
Lihatlah, bagaimana Sa’di, Rumi, dan Hafez mengambil banyak cerita dari
khazanah Persia untuk mengajarkan tasawuf.R. Ng. Ronggowarsito, yang
sempat mengakses Dewa Ruci itu di perpustakaannya, sering merujuk
kepadanya dan sangat terpengaruh olehnya pada karya-karya
sufistiknya.Sebagai misal, dalam Suluk Suksma Lelana, dikisahkan seorang
santri yang bernama Suksma Lelana.Ia melakukan perjalanan panjang untuk
mencari ilmu sangkan paran kepada seorang guru kebatinan yang bernama
Syekh Iman Suci di arga (bukit) Sinai.Ia mengalami berbagai cobaan. Ia
berhadapan dengan putri Raja Kajiman bernama Dewi Sufiyah, dengan dua
orang pembantunya: Ardaruntik dan Drembabhukti.
Menurut Dr Simuh, ketiga makhluk ini melambangkan tiga macam nafsu:
Sufiyah, Amarah, dan Lawwamah. Para penafsir Dewa Ruci juga menyebut gua
di Candramuka dengan dua raksasa di sana sebagai tiga macam nafsu. Ada
juga yang menyebut Bhima dengan empat saudaranya (saderek gangsal
manunggil bayu), sebagai perjuangan diri kita melawan empat nafsu –
Lawwamah, Amarah, Sufiyah, dan Mutmainnah.
Kisah pencarian air kehidupan bukan hanya ada di Jawa.
Kisah ini bahkan bisa dilacak sampai setua kebudayaan Mesopotamia, pada
bangsa Sumeria.Di kota kuno Uruk bertahta Raja yang sangat perkasa,
Gilgamesh.
Ia tidak pernah mengalami kekecewaan kecuali ketika sahabatnya yang
sangat dicintainya, Enkidu, meninggal dunia.”Seperti singa betina yang
ditinggal mati anak-anak bayinya, sang raja mondar-mandir di dekat
ranjang kawannya, meremas-remas rambutnya sendiri, minta anak buahnya
membuat patung kawannya dan meraung-meraung dengan keras,” begitu
tertulis dalam 12 bilah papan yang dikumpulkan dari fragmen Akkadia,
kira-kira 1750 SM.
“Aduhai, biarlah aku tidak mati seperti sahabatku Enkidu. Derita telah
merasuki tubuhku. Mati aku takut. Aku akan terus berjalan. Aku tidak
akan mundur,” kata Gilgamesh sambil meneruskan perjalanannya mencari
tanaman yang akan melepaskannya dari kematian dan mengantarkannya kepada
keabadian. Hampir seperti Dewa Ruci, ia menempuh perjalanan yang berat
dan berbahaya. Ia berhadapan dengan singa-singa yang buas, yang dapat ia
hindari berkat bantuan Dewa Bulan. Ia pergi ke gunung di tempat mentari
tenggelam. Kepadanya diperlihatkan kematian. Ia berjumpa dengan manusia
kalajengking yang menjaga gua. Seorang di antaranya membukakan pintu
gua. Gilgamesh dilemparkan ke dalam kegelapan. Habis gelap terbitlah
terang. Ia sampai ke taman yang indah dan di tepi pantai ia berjumpa
dengan putri yang misterius, Siduri. Sang putri melarangnya meneruskan
perjalanan:
O Gilgamesh, whither do you fare?
The life you seek, you will not find
When the gods created man,
They apportioned death to mankind;
And retained life to themselves
O Gilgamesh, fill your belly,
Make merry, day and night;
Make of each day a festival of joy,
Dance and play, day and night!
Let your raiment be kept clean,
Your head washed, body bathed,
Pay heed to the little one, holding onto your hand,
Let your wife delighted your heart,
For in this is the portion of man
Tetapi Gilgamesh tidak ingin berkutat pada “the portion of man”.Ia ingin
mencari jauh di luar itu. Ia ingin abadi.Putri itu mengantarkannya
kepada tukang perahu kematian, yang pada
gilirannya mengantarkannya ke lautan kosmis.Di situ ia berjumpa dengan
Untuk-napishtim, yang hidup abadi bersama isterinya.Ia diberitahu bahwa
tanaman keabadian itu terletak di dasar samudra kosmis.Ia harus
memetiknya. Pohonnya berduri yang sangat tajam.Tak pernah orang datang
untuk memetik tanaman itu, kembali ke pantai dalam keadaan selamat.Jika
durinya mengenai tangan, tangan akan segera terpotong; tetapi bila
tangan itu berhasil mencabutnya, ia akan hidup abadi.Singkatnya cerita,
Gilgamesh berhasil memetiknya, membawanya ke pantai,
dan -ketika ia beristirahat mandi sejenak- ular mencuri tanaman itu.
Gilgamesh tidak bisa berusia panjang, tetapi ular bisa .
Lalu, lebih kemudian dari kebudayaan Sumeria, adalah kisah kepahlawanan
Aleksander yang Agung dari Masedonia.Setelah berbagai penaklukannya yang
menakjubkan, ia juga ingin mencari
air kehidupan, yang akan memberikannya keabadian.Aleksander menempuh
perjalanan panjang bersama tukang masaknya yang bernama Andreas.Setelah
berkelana bertahun-tahun, akhirnya keduanya memutuskan untuk mengambil
jalan terpisah.Pada suatu tempat, di tepi sungai, Andreas berhenti untuk
makan.Ia membuka bakul makanan, yang di dalamnya sudah disimpan ikan
yang sudah dimasak.Tiba-tiba sepercik air mengenai ikan itu. Ikan
melompat ke sungai.Andreas mengejar ikan itu dan akhirnya kecebur dalam
air keabadian.
Filosofi Dewa Ruci
Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan hakiki dari kejawen adalah berusaha
mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai hidup sejati, dan berada dalam
keadaan harmonis hubungan antara kawula (manusia)dan Gusti (Pencipta)
(manunggaling kawula Gusti )/ pendekatan kepada Yang Maha Kuasa secara
total.
Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada
Sang Pencipta, yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur.
beberapa laku harus dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati
yang mantap.Pencari dan penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan
sesuatu yang berguna bagi semua orang serta melalui kebersihan hati dan
tindakannya. Cipta, rasa, karsa dan karya harus baik, benar, suci dan
ditujukan untuk mamayu hayuning bawono. Kejawen merupakan aset dari
orang Jawa tradisional yang berusaha memahami dan mencari makna dan
hakekat hidup yang mengandung nilai-nilai spiritual yang tinggi.
Tindakan tersebut dibagi tiga bagian yaitu tindakan simbolis dalam
religi, tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis dalam
seni. Tindakan simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan orang Jawa
yang percaya bahwa Tuhan adalah zat yang tidak mampu dijangkau oleh
pikiran manusia, karenanya harus di simbolkan agar dapat di akui
keberadaannya misalnya dengan menyebut Tuhan dengan Gusti Ingkang
Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, dan sebagainya. Tindakan
simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi upacara kematian
yaitu medoakan orang yang meninggal pada tiga hari, tujuh hari,
empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua tahun ,tiga tahun, dan
seribu harinya setelah seseorang meninggal ( tahlilan ). Dan tindakan
simbolis dalam seni dicontohkan dengan berbagai macam warna yang
terlukis pada wajah wayang kulit; warna ini menggambarkan karakter dari
masing-masing tokoh dalam wayang.
Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan teknologi
yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam kehidupan.
Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal gaib secara
empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam metode tanpa
mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang kepercayaan itu
kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan sebagai obyek exploitasi
dan penelitian.
Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah simbol
dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus memiliki empat
buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan empat unsur alam
yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya dipercaya akan
memperkuat rumah baik secara fisik dan mental penghuni rumah tersebut.
Namun dengan adanya teknologi konstruksi yang semakin maju, keberadaan
soko guru itu tidak lagi menjadi syarat pembangunan rumah.Dengan analisa
tersebut dapat diperkirakan bagaimana nantinya faham simbolisme akan
bergeser dari budaya jawa. Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh
oleh kehidupan manusia tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada
simbolisme. Dan sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang
mengikuti berputarnya cakra panggilingan.
Orang Jawa menganggap cerita wayang merupakan cermin dari pada kehidupannya.
Dewa Ruci yang merupakan cerita asli wayang Jawa memberikan gambaran
yang jelas mengenai hubungan harmonis antara Kawula dan Gusti, yang
diperagakan oleh Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci.Dalam bentuk
kakawin (tembang) oleh Pujangga Surakarta,Yosodipuro berjudul:”Serat
Dewaruci Kidung” yang disampaikan dalam bentuk macapat, berbahasa halus
dan sesuai rumus-rumus tembang, dengan bahasa Kawi, Sanskerta dan Jawa
Kuna.
Intisari cerita tersebut yaitu bahwa pihak kaum Kurawa dengan dinegeri
Amarta, ingin menjerumuskan pihak Pandawa dinegeri Astina,(yang
sebenarnya adalah:bersaudara) ke dalam kesengsaraan, melalui perantaraan
guru Durna. Sena yang juga adalah murid guru Durno diberikan ajaran:
bahwa dalam mencapai kesempurnaan demi kesucian badan ,Sena diharuskan
mengikuti perintah sang Guru untuk mencari air suci penghidupan ke hutan
Tibrasara. Sena mengikuti perintah gurunya dan yakin tidak mungkin
teritipu dan terbunuh oleh anjuran Gurunya, dan tetap berniat pergi
mengikuti perintah sang Guru,walaupun sebenarnya ada niat sang Guru
Durno untuk mencelakaannya.Diceritakan Pada saat di negeri Amarta ,Prabu
Suyudana/raja Mandaraka/prabu Salya sedang rapat membahas bagaimana
caranya Pandawa dapat ditipu secara halus agar musnah, sebelum
terjadinya perang Baratayuda, bersama dengan Resi Druna, Adipati Karna,
Raden Suwirya, Raden Jayasusena, Raden Rikadurjaya, Adipati dari
Sindusena, Jayajatra, Patih Sengkuni, Bisma, Dursasana, dan lain-lainnya
termasuk para sentana/pembesar andalan lainnya.
Kemudian Durna memberi petunjuk kepada Sena, bahwa jika ia telah
menemukan air suci itu ,maka akan berarti dirinya mencapai kesempurnaan,
menonjol diantara sesama makhluk,dilindungi ayah-ibu, mulia, berada
dalam triloka,akan hidup kekal adanya. Selanjutnya dikatakan, bahwa
letak air suci ada di hutan Tibrasara, dibawah Gandawedana, di gunung
Candramuka, di dalam gua. Kemudian setelah ia mohon pamit kepada Druna
dan prabu Suyudana, lalu keluar dari istana, untuk mohon pamit, mereka
semua tersenyum, membayangkan Sena berhasil ditipu dan akan hancur lebur
melawan dua raksasa yang tinggal di gua itu, sebagai rasa optimisnya
,untuk sementara merekamerayakan dengan bersuka-ria, pesta makan minum
sepuas-puasnya.
Setelah sampai di gua gunung Candramuka, air yang dicari ternyata tidak
ada, lalu gua disekitarnya diobrak-abrik. Raksasa Rukmuka dan Rukmakala
yang berada di gua terkejut, marah dan mendatangi Sena. Namun walau
telah dijelaskan niat kedatangannya, kedua raksasa itu karena merasa
terganggu akibat ulah Sena, tetap saja mengamuk. Terjadi perkelahian
…….Namun dalam perkelahian dua Raksaksa tersebut kalah, ditendang,
dibanting ke atas batu dan meledak hancur lebur. Kemudian Sena mengamuk
dan mengobrak-abrik lagi sampai lelah,dalam hatinya ia bersedih hati dan
berfikir bagaimana mendapatkan air suci tersebut.Karena
kelelahan,kemudian ia berdiri dibawah pohon beringin.
Setibanya di serambi Astina, saat lengkap dihadiri Resi Druna, Bisma,
Suyudana, Patih Sangkuni, Sindukala, Surangkala, Kuwirya Rikadurjaya,
Jayasusena, lengkap bala Kurawa, dan lain-lainnya, terkejut….! atas
kedatangan Sena. Ia memberi laporan tentang perjalannya dan dijawab oleh
Sang Druna :bahwa ia sebenarnya hanya diuji, sebab tempat air yang
dicari, sebenarnya ada di tengah samudera. Suyudana juga membantu bicara
untuk meyakinkan Sena.
Karena tekad yang kuat maka Senapun nekat untuk pergi lagi….., yang
sebelumnya ia sempat mampir dahulu ke Ngamarta.(tempat para kerabatnya
berada) Sementara itu di Astina keluarga Sena yang mengetahui tipudaya
pihak Kurawa mengirim surat kepada prabu Harimurti/Kresna di Dwarawati,
yang dengan tergesa-gesa bersama bala pasukan datang ke Ngamarta.
Setelah menerima penjelasan dari Darmaputra, Kresna mengatakan bahwa
janganlah Pandawa bersedih, sebab tipu daya para Kurawa akan mendapat
balasan dengan jatuhnya bencana dari dewata yang agung. Ketika sedang
asyik berbincang-bincang, datanglah Sena, yang membuat para Pandawa
termasuk Pancawala, Sumbadra, Retna Drupadi dan Srikandi, dan
lain-lainnya, senang dan akan mengadakan pesta. Namun tidak disangka,
karena Sena ternyata melaporkan bahwa ia akan meneruskan pencarian air
suci itu, yaitu ke tengah samudera. Nasehat dan tangisan, termasuk
tangisan semua sentana laki-laki dan perempuan, tidak membuatnya mundur.
Sena berangkat pergi, tanpa rasa takut keluar masuk hutan, naik turun
gunung, yang akhirnya tiba di tepi laut. Sang ombak bergulung-gulung
menggempur batu karang bagaikan menyambut dan tampak kasihan kepada yang
baru datang, bahwa ia di tipu agar masuk ke dalam samudera, topan
datang juga riuh menggelegar, seakan mengatakan bahwa Druna memberi
petunjuk sesat dan tidak benar.
Bagi Sena, lebih baik mati dari pada pulang menentang sang Maharesi,
walaupun ia tidak mampu masuk ke dalam air, ke dasar samudera. Maka
akhirnya ia berpasrah diri, tidak merasa takut, sakit dan mati memang
sudah kehendak dewata yang agung, karena sudah menyatakan kesanggupan
kepada Druna dan prabu Kurupati, dalam mencari Tirta Kamandanu, masuk ke
dalam samudera.
Dengan suka cita ia lama memandang laut dan keindahan isi laut,
kesedihan sudah terkikis, menerawang tanpa batas, lalu ia memusatkan
perhatian tanpa memikirkan marabahaya, dengan semangat yang
menyala-nyala mencebur ke laut, tampak kegembiraannya, dan tak lupa
digunakannya ilmu Jalasengara, agar air menyibak.
Alkisah ada naga sebesar segara anakan, pemangsa ikan di laut, wajah
liar dan ganas, berbisa sangat mematikan, mulut bagai gua, taring tajam
bercahaya, melilit Sena sampai hanya tertinggal lehernya, menyemburkan
bisa bagai air hujan. Sena bingung dan mengira cepat mati, tapi saat
lelah tak kuasa meronta, ia teringat segera menikamkan kukunya, kuku
Pancanaka, menancap di badan naga, darah memancar deras, naga besar itu
mati, seisi laut bergembira.
Sementara itu Pandawa bersedih hati dan menangis memohon penuh iba,
kepada prabu Kresna. Lalu dikatakan oleh Kresna, bahwa Sena tidak akan
meninggal dunia, bahkan mendapatkan pahala dari dewata yang nanti akan
datang dengan kesucian, memperoleh cinta kemuliaan dari Hyang Suksma
Kawekas, diijinkan berganti diri menjadi batara yang berhasil menatap
dengan hening. Para saudaranya tidak perlu sedih dan cemas.
Kembali dikisahkan Sang Wrekudara yang masih di samudera, ia bertemu
dengan dewa berambut panjang, seperti anak kecil bermain-main di atas
laut, bernama Dewa Ruci. Lalu ia berbicara :”Sena apa kerjamu, apa
tujuanmu, tinggal di laut, semua serba tidak ada tak ada yang dapat di
makan, tidak ada makanan, dan tidak ada pakaian. Hanya ada daun kering
yang tertiup angin, jatuh didepanku, itu yang saya makan”. Dikatakan
pula :”Wahai Wrekudara, segera datang ke sini, banyak rintangannya, jika
tidak mati-matian tentu tak akan dapat sampai di tempat ini, segalanya
serba sepi. Tidak terang dan pikiranmu memaksa, dirimu tidak sayang
untuk mati, memang benar, disini tidak mungkin ditemukan”.
“Kau pun keturunan Sang Hyang Pramesthi, Hyang Girinata, kau keturunan
dari Sang Hyang Brama asal dari para raja, ayahmu pun keturunan dari
Brama, menyebarkan para raja, ibumu Dewi Kunthi, yang memiliki
keturunan, yaitu sang Hyang Wisnu Murti. Hanya berputra tiga dengan
ayahmu, Yudistira sebagai anak sulung, yang kedua dirimu, sebagai
penengah adalah Dananjaya, yang dua anak lain dari keturunan dengan
Madrim, genaplah Pandawa, kedatanganmu disini pun juga atas petunjuk
Dhang Hyang Druna untuk mencari air Penghidupan berupa air jernih,
karena gurumu yang memberi petunjuk, itulah yang kau laksanakan, maka
orang yang bertapa sulit menikmati hidupnya”, lanjut Dewa Ruci.
Kemudian dikatakan :”Jangan pergi bila belum jelas maksudnya, jangan
makan bila belum tahu rasa yang dimakan, janganlah berpakaian bila belum
tahu nama pakaianmu. Kau bisa tahu dari bertanya, dan dengan meniru
juga, jadi dengan dilaksanakan, demikian dalam hidup, ada orang bodoh
dari gunung akan membeli emas, oleh tukang emas diberi kertas kuning
dikira emas mulia. Demikian pula orang berguru, bila belum paham, akan
tempat yang harus disembah”.
Wrekudara masuk tubuh Dewa Ruci menerima ajaran tentang Kenyataan
“Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku”, kata Dewa Ruci.
Sambil tertawa sena bertanya :”Tuan ini bertubuh kecil, saya bertubuh
besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak mungkin masuk”.Dewa
Ruci tersenyum dan berkata lirih:”besar mana dirimu dengan dunia ini,
semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya, tak
sarat masuk ke dalam tubuhku”.
Atas petunjuk Dewa Ruci, Sena masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga
kiri. Dan tampaklah laut luas tanpa tepi, langit luas, tak tahu mana
utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah dan atas, depan dan
belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci, memancarkan sinar, dan
diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.
Ada empat macam benda yang tampak oleh Sena, yaitu hitam, merah kuning
dan putih. Lalu berkatalah Dewa Ruci: “Yang pertama kau lihat cahaya,
menyala tidak tahu namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam
hatimu, yang memimpin dirimu, maksudnya hati, disebut muka sifat, yang
menuntun kepada sifat lebih, merupakan hakikat sifat itu sendiri. Lekas
pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk hati
tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang
berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang hati.
Yang hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi
dan menutupi tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik,
segala keinginan keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar
kepada kewaspadaan. Yang kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang
putih berarti nyata, hati yang tenang suci tanpa berpikiran ini dan itu,
perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam, merah dan kuning adalah
penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan Suksma Mulia.
Lalu Wrekudara melihat, cahaya memancar berkilat, berpelangi melengkung,
bentuk zat yang dicari, apakah gerangan itu ?! Menurut Dewa Ruci, itu
bukan yang dicari (air suci), yang dilihat itu yang tampak berkilat
cahayanya, memancar bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa
bentuk dan tanpa warna, tidak berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat
tinggal, hanya terdapat pada orang-orang yang awas, hanya berupa firasat
di dunia ini, dipegang tidak dapat, adalah Pramana, yang menyatu dengan
diri tetapi tidak ikut merasakan gembira dan prihatin, bertempat
tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak ikut merasakan sakit
dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang tinggal, badan
tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi oleh
suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat.
Kehidupan Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana
bila mati ikut lesu, namun bila hilang, kehidupan suksma ada. Sirna
itulah yang ditemui, kehidupan suksma yang sesungguhnya, Pramana
Anresandani.
Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran,
bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara
gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah
mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan
nafsu kehidupan tapi kuasailah.
Tentang keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak
mengalami hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan
bermanfaat, peganglah dalam pemusatan pikiran, disimpan dalam buana,
keberadaannya melekat pada diri, menyatu padu dan sudah menjadi kawan
akrab. Sedangkan Suksma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat
dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu
dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan
manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang
memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak,
dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan
panggungnya.
Penerima ajaran dan nasehat ini tidak boleh menyombongkan diri, hayati
dengan sungguh-sungguh, karena nasehat merupakan benih. Namun jika
ditemui ajaran misalnya kacang kedelai disebar di bebatuan tanpa tanah
tentu tidak akan dapat tumbuh, maka jika manusia bijaksana, tinggalkan
dan hilangkan, agar menjadi jelas penglihatan sukma, rupa dan suara.
Hyang Luhur menjadi badan Sukma Jernih, segala tingkah laku akan menjadi
satu, sudah menjadi diri sendiri, dimana setiap gerak tentu juga
merupakan kehendak manusia, terkabul itu namanya, akan segala keinginan,
semua sudah ada pada manusia, semua jagad ini karena diri manusia,
dalam segala janji janganlah ingkar.
Jika sudah paham akan segala tanggung jawab, rahasiakan dan tutupilah.
Yang terbaik, untuk disini dan untuk disana juga, bagaikan mati di dalam
hidup, bagaikan hidup dalam mati, hidup abadi selamanya, yang mati itu
juga. Badan hanya sekedar melaksanakan secara lahir, yaitu yang menuju
pada nafsu.
Wrekudara setelah mendengar perkataan Dewa Ruci, hatinya terang
benderang, menerima dengan suka hati, dalam hati mengharap mendapatkan
anugerah wahyu sesungguhnya. Dan kemudian dikatakan oleh Dewa Ruci
:”Sena ketahuilah olehmu, yang kau kerjakan, tidak ada ilmu yang
didatangkan, semua sudah kau kuasai, tak ada lagi yang dicari,
kesaktian, kepandaian dan keperkasaan, karena kesungguhan hati ialah
dalam cara melaksanakan.
Dewa Ruci selesai menyampaikan ajarannya, Wrekudara tidak bingung dan
semua sudah dipahami, lalu kembali ke alam kemanusiaan, gembira hatinya,
hilanglah kekalutan hatinya, dan Dewa Ruci telah sirna dari mata,
Wrekudara lalu mengingat, banyak yang didengarnya tentang tingkah para
Pertapa yang berpikiran salah, mengira sudah benar, akhirnya tak
berdaya, dililit oleh penerapannya, seperti mengharapkan kemuliaan,
namun akhirnya tersesat dan terjerumus.
Bertapa tanpa ilmu, tentu tidak akan berhasil, kematian seolah
dipaksakan, melalui kepertapaannya, mengira dapat mencapai kesempurnaan
dengan cara bertapa tanpa petunjuk, tanpa pedoman berguru,
mengosongkanan pikiran, belum tentu akan mendapatkan petunjuk yang
nyata. Tingkah seenaknya, bertapa dengan merusak tubuh dalam mencapai
kamuksan, bahkan gagallah bertapanya itu.
Guru yang benar, mengangkat murid/cantrik, jika memberi ajaran tidak
jauh tempat duduknya, cantrik sebagai sahabatnya, lepas dari pemikiran
batinnya, mengajarkan wahyu yang diperoleh. Inilah keutamaan bagi
keduanya.
Tingkah manusia hidup usahakan dapat seperti wayang yang dimainkan di
atas panggung, di balik layar ia digerak-gerakkan, banyak hiasan yang
dipasang, berlampu panggung matahari dan rembulan, dengan layarnya alam
yang sepi, yang melihat adalah pikiran, bumi sebagai tempat berpijak,
wayang tegak ditopang orang yang menyaksikan, gerak dan diamnya
dimainkan oleh Dalang, disuarakan bila harus berkata-kata, bahwa itu
dari Dalang yang berada dibalik layar, bagaikan api dalam kayu, berderit
oleh tiupan angin, kayu hangus mengeluarkan asap, sebentar kemudian
mengeluarkan api yang berasal dari kayu, ketahuilah asal mulanya,
semuanya yang tergetar, oleh perlindungan jati manusia, yang yang
kemudian sebagai rahasia.
Kembali ke Negeri Ngamarta
Tekad yang sudah sempurna, dengan penuh semangat, Raden Arya Wrekudara
kemudian pulang dan tiba ke negerinya, Ngamarta, tak berpaling hatinya,
tidak asing bagi dirinya, sewujud dan sejiwa, dalam kenyataan ditutupi
dan dirahasiakan, dilaksanakan untuk memenuhi kesatriaannya. Permulaan
jagad raya, kelahiran batin ini, memang tidak kelihatan, yang bagaikan
sudah menyatu, seumpama suatu bentukan, itulah perjalanannya.
Bersamaan dengan kedatangan Sena, di Ngamarta sedang berkumpul para
saudaranya bersama Sang Prabu Kresna, yang sedang membicarakan kepergian
Sena, cara masuk dasar samudera. Maka disambutlah ia, dan saat ditanya
oleh Prabu Yudistira mengenai perjalanan tugasnya, ia menjawab bahwa
perjalanannya itu dicurangi, ada dewa yang memberi tahu kepadanya, bahwa
di lautan itu sepi,tidak ada air penghidupan. Gembira mendengar itu,
lalu Kresna berkata :”Adikku ketahuilah nanti, jangan lupa segala
sesuatu yang sudah terjadi ini”.MAKNA AJARAN DEWA RUCI
- Pencarian air suci Prawitasari
Guru Durna memberitahukan Bima untuk menemukan air suci Prawitasari.
Prawita dari asal kata Pawita artinya bersih, suci; sari artinya inti.
Jadi Prawitasari pengertiannya adalah inti atau sari dari pada ilmu
suci.
- Hutan Tikbrasara dan Gunung Reksamuka
Air suci itu dikatakan berada dihutan Tikbrasara, dilereng Gunung
Reksamuka. Tikbra artinya rasa prihatin; sara berarti tajamnya pisau,
ini melambangkan pelajaran untuk mencapai lendeping cipta (tajamnya
cipta). Reksa berarti mamalihara atau mengurusi; muka adalah wajah, jadi
yang dimaksud dengan Reksamuka dapat diartikan: mencapai sari ilmu
sejati melalui samadi.
1. Sebelum melakukan samadi orang harus membersihkan atau menyucikan
badan dan jiwanya dengan air.2. Pada waktu samadi dia harus memusatkan
ciptanya dengan fokus pandangan kepada pucuk hidung. Terminologi mistis
yang dipakai adalah mendaki gunung Tursina, Tur berarti gunung, sina
berarti tempat artinya tempat yang tinggi.Pandangan atau paningal sangat
penting pada saat samadi. Seseorang yang mendapatkan restu dzat yang
suci, dia bisa melihat kenyataan antara lain melalui cahaya atau sinar
yang datang kepadanya waktu samadi. Dalam cerita wayang digambarkan
bahwasanya Resi Manukmanasa dan Bengawan Sakutrem bisa pergi ketempat
suci melalui cahaya suci.
- Raksasa Rukmuka dan Rukmakala
Di hutan, Bima diserang oleh dua raksasa yaitu Rukmuka dan Rukmala.
Dalam pertempuran yang hebat Bima berhasil membunuh keduanya, ini
berarti Bima berhasil menyingkirkan halangan untuk mencapai tujuan
supaya samadinya berhasil.
Rukmuka : Ruk berarti rusak, ini melambangkan hambatan yang berasal dari kemewahan makanan yang enak (kemukten).
Rukmakala : Rukma berarti emas, kala adalha bahaya, menggambarkan
halangan yang datang dari kemewahan kekayaan material antara lain:
pakaian, perhiasan seperti emas permata dan lain-lain (kamulyan)
Bima tidak akan mungkin melaksanakan samadinya dengan sempurna yang
ditujukan kepada kesucian apabila pikirannya masih dipenuhi oleh
kamukten dan kamulyan dalam kehidupan, karena kamukten dan kamulyan akan
menutupi ciptanya yang jernih, terbunuhnya dua raksasa tersebut dengan
gamblang menjelaskan bahwa Bima bisa menghapus halangan-halangan
tersebut.
- Samudra dan Ular
Bima akhirnya tahu bahwa air suci itu tidak ada di hutan , tetapi
sebenarnya berada didasar samudra. Tanpa ragu-ragu sedikitpun dia menuju
ke samudra. Ingatlah kepada perkataan Samudra Pangaksama yang berarti
orang yang baik semestinya memiliki hati seperti luasnya samudra, yang
dengan mudah akan memaafkan kesalahan orang lain.
Ular adalah simbol dari kejahatan. Bima membunuh ular tersebut dalam
satu pertarungan yang seru. Disini menggambarkan bahwa dalam pencarian
untuk mendapatkan kenyataan sejati, tidaklah cukup bagi Bima hanya
mengesampingkan kamukten dan kamulyan, dia harus juga menghilangkan
kejahatan didalam hatinya. Untuk itu dia harus mempunyai sifat-sifat
sebagai berikut:
1. Rila: dia tidak susah apabila kekayaannya berkurang dan tidak iri
kepada orang lain.2. Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar.
3. Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar.
4. Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar.
5. Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran.
6. Santosa : selalu beraa dijalan yang benar, tidak pernah berhenti
untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada
untuk menghindari perbuatan jahat.
7. Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau
napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada
kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu.
8. Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak.
9. Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati.
10. Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar.
11. Samadi.
12. Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar,
makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak:
minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih
minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu
harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering
bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah.
Pertemuan dengan Dewa Suksma RuciSesudah Bima mebunuh ular dengan
menggunakan kuku Pancanaka, Bima bertemu dengan Dewa kecil yaitu Dewa
Suksma Ruci yang rupanya persis seperti dia. Bima memasuki raga Dewa
Suksma Ruci melalui telinganya yang sebelah kiri. Didalam, Bima bisa
melihat dengan jelas seluruh jagad dan juga melihat dewa kecil tersebut.
Pelajaran spiritual dari pertemuan ini adalah :
- Bima bermeditasi dengan benar, menutup kedua matanya, mengatur
pernapasannya, memusatkan perhatiannya dengan cipta hening dan rasa
hening.
- Kedatangan dari dewa Suksma Ruci adalah pertanda suci, diterimanya samadi Bima yaitu bersatunya kawula dan Gusti.
Didalam paningal (pandangan didalam) Bima bisa melihat segalanya
segalanya terbuka untuknya (Tinarbuka) jelas dan tidak ada rahasia lagi.
Bima telah menerima pelajaran terpenting dalam hidupnya yaitu bahwa
dalam dirinya yang terdalam, dia adalah satu dengan yang suci, tak
terpisahkan. Dia telah mencapai kasunyatan sejati. Pengalaman ini dalam
istilah spiritual disebut “mati dalam hidup” dan juga disebut “hidup
dalam mati”. Bima tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini
sebelumnya. Mula-mula di tidak mau pergi tetapi kemudian dia sadar bahwa
dia harus tetap melaksanakan pekerjaan dan kewajibannya, ketemu
keluarganya dan lain-lain.
Arti simbolis pakaian dan perhiasan Bima
Bima mengenakan pakaian dan perhiasan yang dipakai oleh orang yang telah
mencapai kasunytan-kenyataan sejati. Gelang Candrakirana dikenakan pada
lengan kiri dan kanannya. Candra artinya bulan, kirana artinya sinar.
Bima yang sudah tinarbuka, sudah menguasai sinar suci yang terang yang
terdapat didalam paningal.
Batik poleng : kain batik yang mempunyai 4 warna yaitu; merah, hitam,
kuning dan putih. Yang merupakan simbol nafsu, amarah, alumah, supiah
dan mutmainah. Disini menggambarkan bahwa Bima sudah mampu untuk
mengendalikan nafsunya.
Tusuk konde besar dari kayu asem
Kata asem menunjukkan sengsem artinya tertarik, Bima hanya tertarik
kepada laku untuk kesempurnaan hidup, dia tidak tertarik kepada kekeyaan
duniawi.
Tanda emas diantara mata.
Artiya Bima melaksanakan samadinya secara teratur dan mantap.
Kuku Pancanaka
Bima mengepalkan tinjunya dari kedua tangannya.
Melambangkan :
1. Dia telah memegang dengan kuat ilmu sejati.
2. Persatuan orang-orang yang bermoral baik adalah lebih kuat, dari
persatuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, meskipun jumlah
orang yang bermoral baik itu kalah banyak.
Contohnya lima pandawa bisa mengalahkan seratus korawa. Kuku pancanaka
menunjukkan magis dan wibawa seseorang yang telah mencapai ilmu sejati.
Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku, Senajan To Akeh Ngelmune Lamun Ora Ditangkarake Lan Ora Digunakake, Ngelmu Iku Tanpa Guna. Sugeng Midangetaken Kalian Nyruput ” KOPI TEH SUSU ” Masih Khas Asli Jawa Timur. No Telp, 082375722650/081929341703 atau Email : putro.gendroyono@gmail.com Nuwun.
Rabu, 14 November 2012
Perjalanan Spiritualku
Pada
saatnya nanti. Jauh dimasa depan maka esensi ajaranku akan dilupakan.
Yang ada hanya ritual kering yang masih terus dipelihara. Bahkan
ritual-ritual itu pada akhirnya menciptakan tuhan-tuhan baru.
Tuhan-tuhan yang menjadi harapan bagi mereka-mereka yang terjebak dalam
ilusi. Esensi telah dirampas seluruhnya oleh ilusi yang diciptakan oleh
ruang dan waktu dari masaku.
Maka
pada saatnya nanti. Jauh dimasa depan esensiku akan dan harus kembali
pada wujud seorang manusia. Manusia yang berusaha mewujudkan kembali
esensi ajaran yang kuajarkan pada kalian sekarang. Manusia itu akan
menjalani apa yang kujalani. Semua perlakuan yang aku hadapi saat ini
akan dialami olehNya. Segala makian, tuduhan, pertentangan, penolakan,
pembunuhan. Tidak ada satu kecuali yang tidak akan dialaminya.
Dan
seperti saat ini yang kualami, maka hanya orang-orang yang beruntunglah
yang dapat menyadari keagungannya. Menyadari esensiku yang ada dalam
diri manusia agung itu. Mereka itu orang-orang beruntung seperti kalian
yang mau mendengarkanku. Dan seperti saat ini, dimana lebih banyak yang
tidak mau menyadari apa yang aku ajarkan. Maka begitu pulalah yang akan
dialami manusia esensiku di masa depan.
Sebuah
keniscayaan, semua itu akan terjadi. Maka aku nasihatkan kepadamu agar
jangan sekalipun melupakan ajaran ini. Ini adalah warisan yang sangat
berharga bagi generasi jauh setelahmu. Wariskanlah ajaran ini pada masa
depan. Semua manusia yang masih mengetahui ajaran ini akan menjadi
sahabat yang sangat berharga bagi manusia esensiku di masa depan.
Seperti kalian para sahabatku yang begitu berharga bagiku saat ini. Para
sahabatku yang mewarisi ilmu dari manusia esensiku dimasa lalu.
KULIT NAFSUL MUTHMAINNAH (JIWA, DIRI YANG TENANG)...
Dalam istilah agama Islam, ada sebuah sifat jiwa (diri) yang disebut dengan JIWA YANG TENANG (Nafsul Muthmainnah). CIRI-CIRI Nafsul Muthmainnah ini hanya sederhana saja, yaitu pada Nafs ini tiada lagi rasa kekhawatiran dan tiada kesedihan padanya (la khaufun 'alaihim wala hum yah zanun).
Siapa saja dapat merasakannya. Realitas suasana diri yang bersifat
universal ini kalau dibahasakan secara populer adalah, bahwa pada diri
itu, otaknya tidak lagi dihantam oleh gelombang badai fikirannya,
dadanya tidak lagi dihantam oleh galaunya perasaannya. Ya..., otak sang diri ini sudah tidak lagi terkotak-kotak dalam berbagai persepsi yang sangat beragam dari orang ke orang, dan dada sang diri itu juga sudah tidak bergolak lagi dengan berbagai amukan perasaan baik perasaan senang maupun perasaan susah.
Ada
diantara kita yang bisa sampai pada suasana otak dan dada yang tenang
ini saja sebenarnya sudah sangat bagus sekali. Karena banyak juga
diantara kita yang mengaku-ngaku sudah beragama, tapi fikiran dan dada
kita masih dipenuhi oleh badai fikiran dan amukan rasa sehingga kita
sibuk sendiri dengan apa-apa yang kita fikirkan dan rasakan itu.
Karena
suasana jiwa yang tenang itu adalah sebuah sunatullah, atau bisa juga
disebut sebagai hukum positif yang diturunkan oleh Sang Pencipta kepada
seluruh umat manusia, maka semua manusia juga akan bisa mendapatkannya.
Ya…, SEMUA manusia, tak tergantung pada agama dan suku bangsa, akan
mampu meraih suasana otak dan dada yang tenang itu. Karena manusia ini
diciptakan Tuhan memang beragam, maka cara untuk mendapatkan ketenangan
otak dan dada itu juga bisa bermacam-macam. Boleh dikatakan cara untuk
mendapatkan jiwa yang tenang itu akan sama banyaknya dengan jumlah
manusia itu sendiri. Tak terbatas.
Salah
satu cara yang dianggap orang dapat menciptakan sensasi rasa tenang itu
adalah dengan cara meyakini, bahkan sampai benar-benar mengalami, apa
yang dinamakan oleh pemraktek reiki, taichi, yoga, dan meditasi lainnya
itu dengan proses terbukanya CAKRA MAHKOTA, begitu juga CAKRA DADA.
Proses terbukanya cakra-cakra utama (mayor) ini ternyata memunculkan
fenomena-fenomena, dimana pemrakteknya seperti mampu merasakan dirinya
lepas dari sensasi ketubuhannya dan kemudian berubah menjadi sensasi
alam semesta. Terbukanya Cakra Mahkota, diyakini orang bisa menimbulkan
sensasi keluasan otak yang akan membuat otak itu menjadi tenang. Seperti
juga halnya sensasi keluasan dan kelapangan dada yang dipercaya orang
dapat muncul dengan telah bersihnya Cakra Dada.
Pasal
apakah dengan terbukanya Cakra Mahkota akan mempermudah orang untuk
nyambung ke Allah, seperti pertanyaan Pak Rizki, saya tidak dapat
menjawabnya. Karena tentang Allah ini setiap agama bahkan setiap orang
punya persepsi sendiri-sendiri. Tentang Allah ini, setiap orang
mempunyai hubungan yang sangat pribadi sekali dengan-Nya. Sangat pribadi
sekali. Hal ini akan saya kupas lebih pada uraian “Kulit Sang Aku
Diri”.
Akan
tetapi, Cakra Mahkota yang sudah terbuka boleh jadi memang dapat
mempercepat hilangnya badai fikiran di otak kita. Begitu juga dengan
terbukanya Cakra Dada yang akan mengurangi amukan berbagai perasaan.
Boleh jadi pula orang yang telah mendapatkan keluasan dan ketenangan
fikiran dan dada itu dapat lebih mudah untuk menjadi manusia universal.
Dari
sekian banyak metoda itu, lalu ada beberapa metoda yang menonjol. Ya…,
wajar saja !!!. Karena di atas awan memang masih ada awan. Beberapa
metoda yang menonjol itu lalu dipasarkan oleh pemrakteknya ke penjuru
dunia. Dengan berbagai nama. Setiap nama itu mempunyai ciri khasnya
sendiri-sendiri. Siapa tahu ada yang maunyobain juga. Nah…, metoda-metoda yang sudah kita bahas di atas tadi adalah beberapa contoh saja diantara metoda-metoda yang ada.
Bahkan
dalam agama Islam, selain praktek tarekat di atas, masih banyak
metoda-metoda lainnya yang bisa dipakai. Misalnya puasa, zakat, sedekah,
haji, yang tujuannya adalah untuk mengolah diri (tadzkiyatunnafs)
agar bisa menjadi tenang. Shalat pun ternyata tujuannya adalah untuk
membawa peshalat kepada suasana jiwa yang tenang itu, sehingga sang jiwa
itu bisa tercegah dari badai fikiran dan rasa, yang dalam istilah
agamanya disebut sebagai: “si peshalat bisa tercegah dari perbuatan yang
keji dan mungkar”.
Jadi
dalam semua praktek-praktek agama (agama apa saja) maupun praktek
pengolahan dan penyucian diri yang begitu beragamnya itu, pada tatanan
DIRI (NAFS) itu sendiri akan mempunyai dampak yang hampir sama. Semuanya
menawarkan cara-cara untuk mencapai ketenangan diri, yang realitasnya
adalah lepasnya sang diri dari jebakan badai fikiran di otaknya dan
amukan perasaan di dadanya. Ya…, semua masih berada di kulit nafsul muthmainnah saja
sebenarnya. Jadi barangkali wajar saja kalau ada yang orang memilih
agama tertentu (bahkan sampai ada yang mau bertukar agama) atau memilih
praktek pengolahan diri tertentu karena dia mampu merasakan MANFAAT dari
apa-apa yang dia praktekkan dalam agama atau pengolahan dirinya itu.
Tapi kemudian muncul lagi pertanyaan. Setelah diri itu tenang, lalu diri itu mau diapain…???. Dan buat apa agama ini sebenarnya…???.
KONSULTASI
Konsultasi spiritual islami, adalah metode untuk meningkatkan
ke-imanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. "Wahai orang-orang yang
ber-iman, ber-taqwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekat
kepadaNya ". ( QS. Al-Maidah:35 )." Maka bertanyalah kepada orang-orang
yang mempunyai keahlian jika kamu tidak mengetahui ". ( QS. An-Nahl: 43
)Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya ( profesinya ) ". ( QS. Al
Isra : 84 )Nabi Saw bersabda: " Obat segala kesulitan adalah bertanya (
konsultasi ) "Karena banyaknya yg konsultasi dan pad tnya acara, maka
silahkan sms agar tidak menunggu lama : 082375722650 / 081929341703
atau Email :putro.gendroyono@gmail.com
Pendahuluan :
Di dunia ini banyak sekali kesibukan dan problematikkehidupan yang muncul baik dalam bisnis, karir, usaha, pekerjaan maupun dalam keharmonisan keluarga, maka kita membutuhkan konsultan, yang bisa memberi kita masukan yang kita butuhkan secara lengkap dan terpercaya dalam berbagai hal. Untuk bisnis anda pasti membutuhkan konsultan bisnis yang qualified yang bisa memberikan proyeksi bisnis yang anda butuhkan, masukan yang lengkap, situasi bisnis anda dan lawan bisnis anda, saran-saran yang bermanfaat dan bisa memajukan bisnis anda, dlsb.-nya.
Untuk karir, kekerjaan, usaha anda, anda membutuhkan konsultan spiritual yang bisa membaca sifat-sifat, niat-niat, seseorang, yang bisa menilai dan tentu saja harus mempunyai kemampuan untuk melihat kemasa depan agar bisa mengetahui apa yang akan terjadi, bilamana buruk, bagaimana cara untuk merubahnya, mengatasinya. Atau bila anda sedang mempunyai masalah berat, mungkin sifatnya rahasia, yang ingin anda konsultasikan, secara pribadi, akan tetapi belum ada orang yang bisa anda percayai. Untuk keluarga anda, anda tentu membutuhkan konsultan keluarga yang bisa memberikan berbagai jawaban yang bisa memuaskan hati Anda, baik untuk masalah keluarga pada umumnya dan kemungkinan anda kena kiriman santet, teluh atau guna-guna, yang mengakibatkan anda menderita, atau gangguan mahluk halus, bahkan masalah PIL - WIL, gangguan orang ketiga dan keharmonisan keluarga. Kalau anda memang menginginkan semua problematika anda bisa diselesaikan, anda membutuhkan konsultan terpercaya yang bisa menjawab semua pertanyaan anda, bila yang ada belum bisa memuaskan anda, mungkin kami yang anda cari dan butuhkan
Di dunia ini banyak sekali kesibukan dan problematikkehidupan yang muncul baik dalam bisnis, karir, usaha, pekerjaan maupun dalam keharmonisan keluarga, maka kita membutuhkan konsultan, yang bisa memberi kita masukan yang kita butuhkan secara lengkap dan terpercaya dalam berbagai hal. Untuk bisnis anda pasti membutuhkan konsultan bisnis yang qualified yang bisa memberikan proyeksi bisnis yang anda butuhkan, masukan yang lengkap, situasi bisnis anda dan lawan bisnis anda, saran-saran yang bermanfaat dan bisa memajukan bisnis anda, dlsb.-nya.
Untuk karir, kekerjaan, usaha anda, anda membutuhkan konsultan spiritual yang bisa membaca sifat-sifat, niat-niat, seseorang, yang bisa menilai dan tentu saja harus mempunyai kemampuan untuk melihat kemasa depan agar bisa mengetahui apa yang akan terjadi, bilamana buruk, bagaimana cara untuk merubahnya, mengatasinya. Atau bila anda sedang mempunyai masalah berat, mungkin sifatnya rahasia, yang ingin anda konsultasikan, secara pribadi, akan tetapi belum ada orang yang bisa anda percayai. Untuk keluarga anda, anda tentu membutuhkan konsultan keluarga yang bisa memberikan berbagai jawaban yang bisa memuaskan hati Anda, baik untuk masalah keluarga pada umumnya dan kemungkinan anda kena kiriman santet, teluh atau guna-guna, yang mengakibatkan anda menderita, atau gangguan mahluk halus, bahkan masalah PIL - WIL, gangguan orang ketiga dan keharmonisan keluarga. Kalau anda memang menginginkan semua problematika anda bisa diselesaikan, anda membutuhkan konsultan terpercaya yang bisa menjawab semua pertanyaan anda, bila yang ada belum bisa memuaskan anda, mungkin kami yang anda cari dan butuhkan
Sangkan Paraning Dumadi
Dalam hidup ini, manusia senantiasa diingatkan untuk memahami filosofi Kejawen yang
berbunyi “Sangkan Paraning Dumadi”. Apa sebenarnya Sangkan Paraning Dumadi? Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Padahal, jika kita belajar tentang Sangkan Paraning Dumadi, maka kita akan mengetahui kemana tujuan kita setelah hidup kita berada di akhir hayat.
Manusia sering diajari filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri dengan mudik. Nah, mudik itulah yang menjadi pemahaman filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk memahami dari mana dulu kita berasal, dan akan kemanakah hidup kita ini nantinya.
berbunyi “Sangkan Paraning Dumadi”. Apa sebenarnya Sangkan Paraning Dumadi? Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Padahal, jika kita belajar tentang Sangkan Paraning Dumadi, maka kita akan mengetahui kemana tujuan kita setelah hidup kita berada di akhir hayat.
Manusia sering diajari filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri dengan mudik. Nah, mudik itulah yang menjadi pemahaman filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk memahami dari mana dulu kita berasal, dan akan kemanakah hidup kita ini nantinya.
Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak
tembang dhandanggula warisan para leluhur yang sampai detik ini masih
terus dikumandangkan.
Kawruhana sejatining urip
Urip ana jroning alam donya
Bebasane mampir ngombe
Umpama manuk mabur
Lunga saka kurungan neki
Pundi pencokan benjang
Awja kongsi kaleru
Umpama lunga sesanja
Najan-sinanjan ora wurung bakal mulih
Mulih mula mulanya
Urip ana jroning alam donya
Bebasane mampir ngombe
Umpama manuk mabur
Lunga saka kurungan neki
Pundi pencokan benjang
Awja kongsi kaleru
Umpama lunga sesanja
Najan-sinanjan ora wurung bakal mulih
Mulih mula mulanya
Ketahuilah sejatinya hidup,
Hidup di dalam alam dunia,
Ibarat perumpamaan mampir minum,
Seumpama burung terbang,
Pergi dari kurungannya,
Dimana hinggapnya besok,
Jangan sampai keliru,
Umpama orang pergi bertandang,
Saling bertandang, yang pasti bakal pulang,
Pulang ke asal mulanya,
Kemanakah kita bakal ‘pulang’?
Kemanakah setelah kita ‘mampir ngombe’ di dunia ini?
Dimana tempat hinggap kita andai melesat terbang dari ‘kurungan’ (badan jasmani) dunia ini?
Kemanakah aku hendak pulang setelah aku pergi bertandang ke dunia ini?
Itu adalah suatu pertanyaan besar yang sering hinggap di benak orang-orang yang mencari ilmu sejati.
Kemanakah setelah kita ‘mampir ngombe’ di dunia ini?
Dimana tempat hinggap kita andai melesat terbang dari ‘kurungan’ (badan jasmani) dunia ini?
Kemanakah aku hendak pulang setelah aku pergi bertandang ke dunia ini?
Itu adalah suatu pertanyaan besar yang sering hinggap di benak orang-orang yang mencari ilmu sejati.
Yang jelas, beberapa pertanyaan itu
menunjukkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang langgeng. Hidup di
dunia ini hanya sementara saja. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika
kita menyimak tembang dari Syech Siti Jenar yang digubah oleh Raden
Panji Natara dan digubah lagi oleh Bratakesawa yang bunyinya seperti
ini:
“Kowe
padha kuwalik panemumu, angira donya iki ngalame wong urip, akerat kuwi
ngalame wong mati; mulane kowe pada kanthil-kumanthil marang kahanan
ing donya, sarta suthik aninggal donya.” (“Terbalik
pendapatmu, mengira dunia ini alamnya orang hidup, akherat itu alamnya
orang mati. Makanya kamu sangat lekat dengan kehidupan dunia, dan tidak
mau meninggalkan alam dunia”)
Pertanyaan yang muncul dari tembang Syech Siti Jenar adalah:
Kalau dunia ini bukan alamnya orang hidup, lalu alamnya siapa?
Kalau dunia ini bukan alamnya orang hidup, lalu alamnya siapa?
Syech Siti Jenar menambahkan penjelasannya:
“Sanyatane, donya iki ngalame
wong mati, iya ing kene iki anane swarga lan naraka, tegese, bungah lan
susah. Sawise kita ninggal donya iki, kita bali urip langgeng, ora ana
bedane antarane ratu karo kere, wali karo bajingan.” (Kenyataannya,
dunia ini alamnya orang mati, iya di dunia ini adanya surga dan neraka,
artinya senang dan susah. Setelah kita meninggalkan alam dunia ini,
kita kembali hidup langgeng, tidak ada bedanya antara yang berpangkat
ratu dan orang miskin, wali ataupun bajingan”)
Dari pendapat Syech Siti Jenar itu kita
bisa belajar, bahwa hidup di dunia ini yang serba berubah seperti roda
(kadang berada di bawah, kadang berada di atas), besok mendapat
kesenangan, lusa memperoleh kesusahan, dan itu bukanlah merupakan hidup
yang sejati ataupun langgeng.
Wejangan beberapa leluhur mengatakan:
“Urip sing sejati yaiku urip sing tan keno pati”.
(hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak bisa terkena kematian).
Ya, kita semua bakal hidup sejati. Tetapi permasalahan yang muncul
adalah, siapkah kita menghadapi hidup yang sejati jika kita senantiasa
berpegang teguh pada kehidupan di dunia yang serba fana?
Ajaran para leluhur juga menjelaskan:
“Tangeh lamun siro bisa ngerti sampurnaning pati,
yen siro ora ngerti sampurnaning urip.”
yen siro ora ngerti sampurnaning urip.”
(mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna,
jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna).
jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna).
Oleh karena itu, kita wajib untuk menimba
ilmu agar hidup kita menjadi sempurna dan mampu meninggalkan alam dunia
ini menuju ke kematian yang sempurna pula.
Siapakah SEMAR ... ???
Batara Semar
MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.
Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.
Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.
Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.
Di
dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang
Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang
mempunyai 8 daya, yaitu:
- tidak pernah lapar
- tidak pernah mengantuk
- tidak pernah jatuh cinta
- tidak pernah bersedih
- tidak pernah merasa capek
- tidak pernah menderita sakit
- tidak pernah kepanasan
- tidak pernah kedinginan
kedelapan
daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun
atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar
yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara
Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa,
Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai
alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia
di alam dunia.
Di
alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi
Sanggani putri dari Sanghyang Hening. Dari hasil
perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara
Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara
Wrahaspati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra,
Batara Kwera, Batara Tamburu, Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti.
Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang
Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan berkulit
hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan
diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan
Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi
Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.
Dikisahkan
Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali
ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari
sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Ke
dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke
duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita. Yang
tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati.
Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati
menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta
mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan
Semarsanta.
Sebagai
Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia
kepada Bendara (tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk
menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa,
mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan.
Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan
dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau
pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai
semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku
mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta. Dapat
dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat
yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya,
hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan
abadi lahir batin. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh
orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu;
Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri,
Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai
Arjuna.
Jika
sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta
katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat
secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol
jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu
ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau
Batara Ismaya.
Karena
Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam
dunia, maka ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai
media manitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya
nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan
nama Semar.
Seperti
telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah
penggambaran sesuatau yang tidak jelas tersamar.
Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.
Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.
Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.
Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.
Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.
Jika
sangat yakin bahwa ia Semarasanta, tiba-tiba berubah
keyakinan bahwa ia adalah Batara Semar, dan akhirnya
tidak yakin, karena takut keliru. Itulah sesuatu yang
belum jelas, masih diSAMARkan, yang digambarkan pada
seorang tokoh Semar.
SEMAR
adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia
tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang
egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun
dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan
rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia,
atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan
dan kemuliaan nan abadi.
Senin, 12 November 2012
Keangkuhan Spiritual ... !!!!
Pada
tatanan spiritual, tidak jarang muncul keangkuhan bagi pemrakteknya
yang biasa disebut orang sebagai kaum spiritualis. Dalam agama Islam,
keangkuhan spiritual ini diwakili,
misalnya, oleh kelompok-kelompok yang berbau tasawuf atau kesufian
terhadap kelompok lainnya yang dikelompokkan orang sebagai kelompok
syariat (non spiritualis). Kaum spiritualis umumnya sangat meremehkan
kaum syariat yang mereka anggap sebagai kumpulan orang-orang yang
tingkat pemahaman agamanya hanya terbatas pada penerapan hukum-hukum
formal saja. Sehingga adakalanya sang spiritualis itu sangat meremehkan
sekali syariat agama yang ada. Syariat dianggap mereka hanya untuk
orang-orang yang belum mencapai tingkatan pendakian spiritual.
Bahkan sang spiritualis dengan mudahnya melanggar syariat itu sendiri seperti, dia mabuk-mabukan,
suka perempuan lain yang bukan istrinya, dan sebagainya. Karena sang
spiritualis sudah merasa bahwa sang aku dirinya adalah kebenaran itu
sendiri. Apapun yang dia lakukan, maka dia menganggap bahwa hakekatnya
semua itu adalah kebenaran. Dalam istilah umumnya suasana spiritualis
seperti ini dinamakan orang dengan wilayah sufi yang sedang HELAF.
Pada
taraf tertentu pun, terutama bagi spiritualis yang sudah bisa
menjalankan kesadarannya atau fikirannya “menembus alam-alam imajinasi”,
tidak jarang pula mereka malah melecehkan syariat itu sendiri. Misalnya
mereka tidak lagi melakukan shalat. Karena dengan teknik perjalanan
rohaninya, sang spiritualis merasa
bahwa dirinya telah shalat di Mekkah, padahal saat itu dia masih berada
di daerahnya sendiri. Dan biasanya sang spiritualis itu sebaliknya
malah bisa dzikir (wirid) dalam waktu yang sangat lama.
Atau
bisa juga sang spiritualis tetap menjalankan shalatnya, akan tetapi
adakalanya dia dalam shalatnya itu mengalami apa yang disebutnya
sebagai fana, dimana di tengah-tengah shalatnya sang
spiritualis mengalami suasana perjalanan (moksa) menemui Tuhan. Sang
spiritualis itu terjatuh ketika shalatnya dan keadaannya berada dalam
suasana seperti pingsan. Keadaan seperti ini yang diyakini oleh
pemrakteknya sebagai fana, dapat berlangsung lama. Dan begitu
kesadarannya kembali, maka dianggap selesai pulalah shalatnya. Dan
pemrakteknya meyakini bahwa inilah tingkatan shalat yang paling tinggi.
Dulu, sewaktu menjalani suluk di sebuah tarekat, saya pernah sebentar
terjebak dalam suasana seperti ini. Akan tetapi setelah dikelupasi
kulitnya seperti ini, ternyata istilah MI’RAJ dalam pengertian seperti
ini sama persis dengan MOKSA dalam istilah agama lain.
Tidak
jarang pula ada spiritualis yang hanya asyik masyuk dengan Tuhannya.
Sehingga setiap saat sang spiritualis dibuat sibuk dengan
keasyik-masyukkannya dengan Tuhan itu. Dan biasanya sang aku diri yang
seperti ini bawaannya malas-malasan, tidak mau bekerja, inginnya menyepi
terus ke tempat-tempat sunyi. Sehingga fungsi kekhalifahannya sudah
nyaris hilang sama sekali. Dia menjadi sibuk dengan dirinya sendiri.
MENGAMBIL PELAJARAN…!!
Pada
lapisan kulit sang aku diri ini, semua agama dan praktek-praktek
riyadah (olah jiwa) boleh jadi masih berada dalam wilayah yang sama,
yaitu wilayah sang aku diri. Dapatlah dikatakan bahwa kulit terakhir
yang tersisa dari usaha mengupas kulit bawang spiritual ini adalah sang aku diri.
Sekarang pertanyaannya adalah:
“Sudahkah spiritual itu berakhir hanya sampai dikulit terakhir ini…??”.
“Apakah spiritual itu berhenti dipengakuan sang aku diri (nafs)… ini ??”.
MELEPAS KULIT TERAKHIR, KETIADAAN, FANA…
Berada
dalam jerat pengakuan sang aku diri ini, tanpa disadari, sangatlah
menyibukkan dan bahkan sangat menyiksa, bagi orang yang tinggal di
wilayah ini. Padahal kalau orang sudah berada dalam kesadaran sang aku
diri ini, dimana orang tersebut tidak lagi terpengaruh dengan berbagai
ragam dan perbedaan pemikiran, termasuk perbedaan pemahaman keagamaan,
maka sebenarnya tinggal SELANGKAH saja lagi tugas sang aku diri itu.
YaituPENGEMBALIAN keakuan sang aku diri itu kepada Sang Aku Yang Sebenarnya, yaitu Aku Allah. Ya…, sang aku diri tinggal tidak mengaku saja. Runtuhnya pengakuan sang aku diri inilah yang disebut sebagai FANA yang hakiki. Artinya..., dengan kerendahan hati:
- Sang aku diri tidak lagi mengaku luas. Kembalikan luas itu pada Tuhan, karena hanya Tuhanlah Yang Maha Luas. Biarlah Yang Maha Luas itu sendiri yang mengaku Luas.
- Sang aku diri tidak lagi mengaku melihat. Kembalikan melihat itu kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah Yang Maha Melihat. Biarlah Sang Maha melihat itu mengaku bahwa Dialah yang mengalirkan rasa melihat kepada sang diri (nafs).
- Sang aku diri tidak mengaku mendengar. Kembalikan mendengar itu kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah Yang Maha Mendengar. Biarlah Sang Maha Mendengar itu mengaku bahwa Dialah yang mengalirkan rasa mendengar kepada sang diri (nafs).
- Sang aku diri tidak mengaku tahu. Kembalikan tahu itu kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah Yang Maha Tahu. Biarlah Sang Maha Tahu itu mengaku bahwa Dialah yang mengalirkan rasa tahu melihat kepada sang diri (nafs).
Proses sang aku diri untuk tidak mengaku-ngaku inilah sebenarnya makna lain dari "laa ilaaha illallah".
Tiada yang luas kecuali Dia Yang Luas.
Tiada yang melihat kecuali Dia Yang Melihat.
Tiada yang mendengar kecuali Dia Yang Mendengar.
Tiada yang tahu kecuali Dia Yang Tahu.
Tiada apa-apa yang ada kecuali Dia Itu Yang Ada.
Posisi TIDAK MENGAKU seperti
ini persis sama dengan posisi tumbuh-tumbuhan, posisi gunung-gunung,
posisi matahari dan bintang-bintang, posisi langit dan bumi, posisi alam
semesta, posisi malaikat. Semuanya tunduk dan patuh kepada Kehendak
Tuhan. Semua bersikap sebagai hamba yang selalu RELA, RIDHA menerima
kehendak dan kemauan dari Tuhan, dan Tuhan pun rela dan ridha berhendak
dan berkemauan kepada sang Hamba itu…
“… Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar". (Al Maidah 119, dan dibeberapa ayat lainnya).
Suasana
wilayah SALING RIDHA antara Hamba dengan Tuhannya inilah yang bisa
disebut sebagai wilayah FANA yang hakiki…!!. Dan FANA seperti ini
ternyata ADA SUASANANYA, ADA REALITASNYA. Jadi bukan hanya sebatas
kata-kata, kalimat-kalimat dan definisi-definisi dari otak kita.
Disamping
itu, proses pengembalian keakuan sang aku diri ini haruslah dilakukan
dengan tanpa daya dan tanpa usaha kita sendiri..., karena tiada daya dan upaya, kecuali hanya daya dan upaya dari Tuhan. Pengembalian yang hakiki itu hanya dan hanya bisa kalau kita DITUNTUN oleh Allah sendiri. Karena yang tahu tentang Allah, hanya Allah itu sendiri. Makanya kita selalu berdo'a dalam shalat kita: "Ya Allah..., tuntun saya...".
Dan yang paling penting untuk kita luruskan dalam kita berdo’a ketika
minta dituntun oleh Allah adalah: kita jangan sekali-kali mengarahkan
do’a itu kepada benda-benda, bentuk-bentuk, bayangan-bayangan, dan
persepsi-persepsi apapun.
Kalau
pengembalian itu masih dengan daya dan usaha dari sang aku diri, maka
namanya sang aku diri itu masih ada, masih eksis. Dan sang aku diri itu
akan tersiksa sekali, tatkala do’a kita tidak bersambut, yaaa…, seperti
kita-kita sekarang ini. Sehingga apa saja bisa berubah menjadi siksa.
Beda pendapat jadi siksa. Beda agama jadi siksa. Beda suku jadi siksa.
Begitu
juga kalau pengembalian keakuan sang aku diri itu diarahkan kepada
benda-benda atau alam-alam, artinya kita mengarah kepada yang BUKAN
pencipta alam semesta sendiri, maka kita akan dibuat sibuk oleh Allah
dengan segala sesuatu yang bersifat kealaman itu.
Sebaliknya
saat mana sang aku diri itu "bersedia" dibimbing oleh Allah untuk tidak
mengaku, dan posisi tidak mengaku itu berhasil dia raih, artinya sang
aku diri sudah tiada, FANA, maka yang ada tinggal hanya Yang Ada, Yang WUJUD, yaitu Aku Yang Hakiki (Allah).
Aku yang bening dan merdeka, artinya Aku yang berkehendak dengan
sendirinya. Pada posisi seperti ini, sang aku diri benar-benar hanyalah
menjadi seorang HAMBA yang bersedia:
- Otaknya "dipakai" oleh Allah untuk berkreasi dan menciptakan peradaban bagi umat manusia…,
- Dadanya "dipakai" oleh Allah untuk mengalirkan kehendak dan kemauan-Nya,
- Kelaminnya "dipakai" oleh Allah untuk proses pembiakan umat manusia.
Dan...., lalu kita hanya tinggal menjadi SAKSI SAJA atas perbuatan Allah, atas kehendak Allah, atas kreasi Allah, atas grand design Allah
dalam meramaikan dan menata alam ciptaan-Nya ini. Sungguh tidaklah
sia-sia semua ini berada di dalam genggaman Allah. Semua diatur-Nya,
semua di tata-Nya, semua diurus-Nya tanpa henti. Walau kita tidak mau
mengakui peran-Nya sekali pun, Dia tidak peduli. Dia akan Maha Sibuk
dengan segala ciptaan-Nya, karena memang segala ciptaan-Nya itu hanya
bergantung kepada-Nya …
Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan (Ar Rahman 29).
Dan
Rasulullah Muhammad SAW, dengan kualitas diri Beliau seperti ini,
dimana “sang aku” Beliau, sudah lenyap, Rasulullah ternyata menghadap
kepada Allah dengan tidak membawa apa-apa. Tidak membawa ilmu, tidak
membawa amal, tidak membawa ibadah, tidak membawa tahu, tidak membawa
melihat, tidak membawa mendengar. Beliau semata-mata hanya sebagai HAMBA
yang mau menjadi ALAT ALLAH untuk menjadi RAHMAT bagi alam semesta,
rahmat bagi segenap umat manusia. Dan peletakan dasar-dasar bagi fungsi rahmatan lil a’lamin itu itu berhasil Beliau bangun.
Hanya
sayang…, bahwa generasi-generasi penerus Beliau ternyata banyak yang
tidak amanah…!. Sehingga akibatnya sekarang Islam itu seperti dilecehkan
oleh dunia. Kasihan Rasulullah….!!!.
Lalu apakah kita juga mau ikut-ikutan menjadi generasi yang tidak amanah itu…?, Lalu apakah kita juga mau mewariskan ketidakamanahan itu berestafet kepada anak cucu kita…???. Padahal banyak sudah pelajaran yang muncul dihadapan kita atas tidak amanahnya kita dan generasi-generasi terdahulu itu. Begitu nyata akibat buruknya…!!. Lalu kenapa akibat buruk itu tidak kita jadikan sebagai bahan pelajaran buat kita untuk merubahnya kembali menjadi baik…??. Betapa sombongnya kita ini dengan tidak mau menjadi penyambung tangan Rasulullah, penyambung lidah Rasullah.
Serat Sabdo Jati
Serat SABDO JATI. RADEN Mas Ngabehi Ronggowarsito. Demikian nama salah
seorang pujangga terkenal yang pernah menorehkan jejak gemilang dalam
kesusastraan Jawa di abad 19. Namanya senantiasa dikenang sebagai
pujangga besar yang karya-karyanya tetap abadi hingga kini.
Dari tangan pujangga asal Keraton Surakarta ini lahir berbagai karya
sastra bermutu tinggi yang sarat nilai kemanusiaan. Buku-bukunya antara
lain membahas falsafah, ilmu kebatinan, primbon, kisah raja, sejarah,
lakon wayang, dongeng, syair, adat kesusilaan, dan sebagainya. Namun
sebagian masyarakat Jawa, terutama rakyat jelata, sering mengidentikkan
Ronggowarsito dengan karangan-karangan yang memadukan kesusastraan
dengan ramalan yang penuh harapan, perenungan dan perjuangan.
Dilahirkan pada 15 Maret 1802 dengan nama asli Bagus Burham. Ayahnya
seorang carik Kadipaten Anom yang bernama Raden Mas Pajangswara. Ibunya
Raden Ayu Pajangswara merupakan keturunan ke-9 Sultan Trenggono dari
Demak.
Bakat dan keahliannya dalam bidang kesusastraan semakin terasah dengan
bimbingan kakeknya Raden Tumenggung Sastronegoro. Semenjak kecil, ia
dibekali ajaran Islam dan pengetahuan yang bersandar pada ajaran
kejawen, Hindu, Budha, serta ilmu kebatinan.
Karya-karya besarnya yang terkenal sampai saat ini adalah Serat
Kalatidha yang berisi gambaran zaman penjajahan yang disebut “zaman
edan”. Ada kitab Jaka Lodhang yang berisi ramalan akan datangnya zaman
baik, serta Sabdatama yang berisi ramalan tentang sifat zaman makmur dan
tingkah laku manusia yang tamak.Menjelang akhir hayatnya, Ronggowarsito
menulis buku terakhir Sabdajati yang di antaranya berisi ramalan waktu
kematiannya sendiri. Buku ini pun berisi ucapan perpisahan dan
permohonan pamit karena Ki Pujangga akan segera meninggalkan dunia fana
ini.
Pada 24 Desember 1873, pujangga besar dari tanah Jawa itu meninggal
dunia dengan tenteram. Tempat peristirahatan terakhirnya terletak di
Palar, sebuah desa kecil di wilayah Klaten-Jogjakarta.
Hawya pegat ngudiya Ronging budyayu
Margane suka basuki
Dimen luwar kang kinayun
Kalising panggawe sisip
Ingkang taberi prihatos
Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.
Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon
Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati, agar mudah menanggapi sesuatu.
Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos
Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.
Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon
Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.
Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon
Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan
kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan
itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.
Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon
Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan yang
menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya, sebab
sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.
Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon
Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir, tidak
dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga yang jahat disukai
dianggap utusan Tuhan.
Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor
Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.
Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon
Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan langit,
siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.
Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon
Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.
Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon
Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.
Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon
Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.
Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos
Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.
Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong
Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.
Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon
Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.
Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon
Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai, bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.
Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon
Yang terlihat hanya kurang 8 hari lagi, sudah sampai waktunya, kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.
Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon
Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.
Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti
Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jim, akhir 1802.
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873)
Langganan:
Postingan (Atom)

